Climate changes

Tahukah kamu bahwa dua perusahaan dengan konsumsi listrik yang sama bisa melaporkan angka emisi yang berbeda jauh? Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), perhitungan emisi gas rumah kaca sangat bergantung pada faktor emisi yang digunakan dalam mengonversi data aktivitas menjadi CO2e. Artinya, bukan hanya jumlah listrik atau bahan bakar yang menentukan hasil akhir, tetapi juga emission factor yang dipilih.
Di sinilah kredibilitas dipertaruhkan. Kesalahan kecil dalam memilih faktor emisi dapat mengubah angka baseline, memengaruhi strategi dekarbonisasi, bahkan berdampak pada reputasi perusahaan. Lalu, apa saja aspek penting yang perlu kamu pahami?
Mengapa laporan emisi listrik bisa berbeda meskipun sumber datanya sama? Jawabannya ada pada pendekatan location based dan market based method.
Metode location based menghitung emisi berdasarkan faktor emisi rata rata jaringan listrik di suatu wilayah. Jika bisnismu beroperasi di Indonesia, maka faktor emisi yang digunakan biasanya mengacu pada data grid nasional, misalnya dari laporan resmi pemerintah atau lembaga seperti International Energy Agency (IEA).
Sementara itu, metode market based mempertimbangkan kontrak pembelian listrik tertentu, seperti energi terbarukan melalui Renewable Energy Certificate atau Power Purchase Agreement. Dalam pendekatan ini, faktor emisi bisa lebih rendah karena mencerminkan klaim penggunaan energi bersih.
Kedua metode ini diakui dalam standar global seperti GHG Protocol Scope 2 Guidance. Namun, jika perusahaan tidak transparan dalam menjelaskan metode yang dipakai, publik bisa salah menafsirkan kinerja iklimnya. Oleh karena itu, praktik terbaik adalah melaporkan keduanya secara berdampingan agar pemangku kepentingan memahami konteksnya.
Referensi: https://ghgprotocol.org/scope-2-guidance
Apakah semua faktor emisi regional bisa dipertukarkan? Tentu tidak.
Setiap negara, bahkan setiap wilayah, memiliki bauran energi yang berbeda. Faktor emisi listrik di Indonesia tentu tidak sama dengan Singapura atau Jepang. Jika perusahaan menggunakan faktor emisi negara lain karena alasan kemudahan akses data, hasil perhitungan bisa menjadi bias.
Risikonya bukan hanya kesalahan angka. Dalam audit atau verifikasi, penggunaan faktor emisi yang tidak relevan dapat dianggap sebagai ketidaksesuaian metodologis. Hal ini berpotensi menurunkan kredibilitas laporan keberlanjutan, terutama ketika perusahaan mengklaim target net zero.
Lebih jauh lagi, kesalahan regional juga dapat memengaruhi pengambilan keputusan internal. Strategi pengurangan emisi bisa menjadi tidak tepat sasaran karena didasarkan pada angka yang tidak akurat.
Data menunjukkan bahwa faktor emisi listrik dapat berubah setiap tahun, mengikuti perubahan bauran energi nasional. Jika suatu negara meningkatkan porsi energi terbarukan, faktor emisinya bisa menurun. Sebaliknya, jika pembangkit berbasis batu bara meningkat, faktor emisi bisa naik.
Pertanyaannya, bagaimana dampaknya terhadap baseline?
Baseline adalah titik awal pengukuran emisi yang menjadi acuan target penurunan. Jika faktor emisi diperbarui setiap tahun tanpa strategi penyesuaian yang jelas, maka tren emisi perusahaan bisa terlihat turun atau naik bukan karena perubahan aktivitas, tetapi karena perubahan faktor emisi.
Untuk menjaga konsistensi, standar internasional merekomendasikan pendekatan yang transparan. Perusahaan dapat menetapkan tahun dasar tertentu dan menjelaskan kebijakan pembaruan faktor emisi dalam metodologi laporan. Dengan begitu, perubahan angka dapat ditelusuri secara akuntabel.
Referensi: https://www.wri.org
Mengapa harmonisasi standar penting? Karena laporan emisi bukan sekadar dokumen internal, melainkan alat komunikasi kepada investor, regulator, dan publik.
GHG Protocol Standard memberikan panduan komprehensif mengenai perhitungan dan pelaporan emisi gas rumah kaca, termasuk pemilihan dan dokumentasi faktor emisi. Sementara itu, ISO 14064 yang dikembangkan oleh International Organization for Standardization menyediakan kerangka kerja untuk kuantifikasi, pelaporan, dan verifikasi emisi.
Keduanya menekankan pentingnya transparansi sumber data, relevansi faktor emisi, serta konsistensi metodologi dari tahun ke tahun. Jika perusahaan tidak mengacu pada standar ini, laporan emisi berisiko dianggap kurang kredibel di mata auditor dan pemangku kepentingan global.
Harmonisasi juga membantu ketika perusahaan beroperasi lintas negara. Dengan kerangka yang sama, perbandingan kinerja antar entitas menjadi lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Mengelola ratusan hingga ribuan faktor emisi bukan pekerjaan sederhana. Setiap sektor, mulai dari energi, transportasi, limbah, hingga rantai pasok, memiliki referensi data yang berbeda.
CarbonIQ dirancang untuk memastikan bahwa setiap activity data dikonversi menggunakan faktor emisi yang relevan, mutakhir, dan terdokumentasi dengan jelas. Database faktor emisi dikurasi dari sumber kredibel seperti IPCC, IEA, DEFRA, EPA, PCAF, pemerintah nasional, serta referensi internasional lainnya yang diakui.
Selain itu, sistem ini mencatat versi dan tahun faktor emisi yang digunakan. Ketika terjadi pembaruan data tahunan, perubahan tersebut dapat ditelusuri sehingga perusahaan memahami apakah fluktuasi emisi berasal dari perubahan aktivitas atau pembaruan metodologi.
Pendekatan ini membantu bisnis menjaga konsistensi baseline, mempermudah proses audit, dan meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan terhadap laporan keberlanjutan mereka.
Konversi dari activity data ke CO2e terlihat sederhana di permukaan. Namun, di balik angka tersebut terdapat keputusan metodologi yang menentukan apakah laporan emisi dapat dipercaya atau tidak.
Pemilihan metode location based atau market based, relevansi faktor emisi regional, pembaruan tahunan, serta harmonisasi dengan standar internasional menjadi fondasi utama kredibilitas.
Jika bisnismu ingin membangun strategi dekarbonisasi yang kuat dan terverifikasi, pastikan setiap faktor emisi yang digunakan bukan sekadar angka, tetapi data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Saatnya beralih dari sekadar menghitung emisi menjadi mengelolanya secara strategis dan transparan bersama Jejakin melalui CarbonIQ.






















Jejakin’s green programs combine high-tech monitoring, biodiversity restoration, and community-led initiatives to deliver powerful, sustainable change across ecosystems.








